Berita Kompas akhir-akhir ini hambar rasanya. Lebih radikal Republika—aku mulai suka koran ini. Kompas selalu bicara tentang hal-hal yang politis, dengan tujuan politis pula. Semingguan ini Kompas bicara tentang mahasiswa. Yang paling aku benci adalah ketika diberitakan tentang akan diadakannya semacam pertemuan BEM seluruh Indosesia. Gagasan yang muluk-muluk dengan pelupakan realitas mahasiswa saat ini. Pernah gagasan seperti itu diadakan di UI tapi dikritik oleh Soe Hok Gie. Mengingat biayanya tak kan sebanding dengan hasil.
Menurutku sendiri, yang paling penting adalah penguatan wacana pada tiap lokus dan mengaplikasikan ilmunya buat rakyat setempat. Itu sudah cukup. Tapi kenyataannya kini toh memang gak ada—atau hanya sedikit—mahasiswa yang seperti itu. Lha wong jiwa keberaniannya aja gak ada. Takut nilai jeblok. Pragmatis banget.
***
Kadang aku sakit hati dengan kehidupan yang tidak adil ini. Apakah ini hukuman Tuhan atas kelakuanku selama ini. Aku gak tahu. Dan aku gak bisa menulis ini dengan jujur, pada caatan harianku saat ini sekalipun. Ah, mbuh lah. Kadang aku kecewa dengan semua tatanan kehidupan ini. Asu! Sialan!
Kadang aku sakit hati dengan hidup. Sumpah.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar