Sebenarnya aku mengenal Ali Shariati sejak mengenal tulisan-tulisan Muhidin M Dahlan tiga tahun lalu. Ya, lewat dia, aku jadi tahu, bahwa di Iran ada tokoh yang patut dianut. Tapi saat itu aku belum tahu, apa yang harus kuikuti darinya.
Akhir-akhir ini, aku mulai membaca karya-karyanya lewat buku pinjaman seorang kawan. Salman namanya. Kawan seperjuangan dalam KMPD. Menurutku ia juga mengagungkan tokoh itu. Dengan kritis tentu. Dan darinya aku pinjam buku: Paradigma Kaum Tertindas. Dan seketika aku menyadari, bahwa dalam Islam tak pernah kering dari spirit perjuangan pembebasan atas penindasan di muka bumi. Ah, sayangnya aku belum bisa melakukan apa-apa. Selain nulis—jelek pula. Dan demonstrasi jalanan yang gak jelas arah tujuannya. Tapi mungkin itu hanya awal kawan. Karena aku yakin, seuatu saat akan kulakukan hal yang lebih besar dari itu.
***
[...]
Sedangkan di Lazuardi Birru kerjaannya hanya semacam kampanye “deradikalisasi agama,” revitalisasi Pancasila, dst. Aku tak tertarik. Menurutku, itu isu-isu basi. Aku tak menyukai kutub moderat—mungkin belum. Aku lebih suka hal-hal yang ekstrim. Biarlah orang bilang apa, aku rela.
Rencana minggu ini mau ke Jakarta. Tapi belum punya uang buat ongkos. Ya, sudah, sabar dulu. Lagian masih ingin bersama kekasih. Kencan-kencan dulu lah. Mumpung masih ada kesempatan. Cz, kayaknya kami akan berpisah tiga bulanan. Tiga bulan coy! Bayangkan! Betapa mati kangen aku. Tapi gak papa. Kan masih bisa smsan.
Seperti biasa, di jakarta aku kerja. Itung-itung sambil belajar, sekaligus dapat duit buat bayar SPP. 600 ribu rupiah, untuk kantong makhluk seperti aku susah nyarinya. Tapi di jakarta kali ini aku berencana lain, tak seperti dulu. Aku akan kerja keras. Sangat keras kalo perlu. Buat bekal masa depan. Dst dst (otak buntu, susah nulis).
***
Sore
Tadi aku bicara tentang nikah dengan pacar. Dan ia katakan: kamu berani? Aku bilang, nikah itu butuh pertanggung jawaban lahir bathin. Dan aku lum bisa lakukan itu. Aku baru bisa prepare. Dan begitulah...
Kadang aku merasa terjebak pada jalan hidup yang tak kuinginkan. Seperti saat ini, keetika aku mencintainya. Cinta, bagiku memang karunia, tapi sekaligus kutukan. Aku jadi teringat kisah Adam-Hawa. Mereka rela turun dari surga ke bumi, demi mempertahankan satu hal: cinta. Di surga tanpa cinta: hampa. Mungkin begitulah kesimpulannya.
Ya Allah. Kini aku merasakan hal itu. Cinta itu indah. Sekaligus menyakitkan. Ah, melo banget.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar