Catatan ini sengaja saya tulis dengan sentimentil—anti mental PNS. Tapi jangan salahkan saya secara apriori, karena catatan ini merupakan reaksi dari kelakuan PNS itu sendiri. Tentu tidak semuanya, karena generalisasi dalam ilmu sosial selalu salah. Tapi yang penting bukan salah atau benar, karena salah-benar hanya milik Tuhan. Saya akan sangat bahagia jika ada seseorang yang membaca lalu menanggapi, entah itu mendukung atau menghujat. Dukungan dan hujatan hanya persoalan bagaimana kita bersikap.
PNS memang breksek, seperti Polisi, TNI atau Politisi di Republik Indonesia. Cobalah kau tanya apa kerjaannya, ia pasti menjawab: melayani masyarakat. Dan ketika kau butuh dilayani, semisal membuat KTP, dia akan bilang: mana uangmu? Makin banyak uang makin cepat jadinya. Itu secuplik gambaran.
Seperti strata kepangkatannya, kebrengsekan PNS juga berjenjang. Mulai kelas teri sampai kelas kakap. Kelas teri biasanya dihuni oleh mereka yang I-A dan yang paling kakap biasanya kelas IV-E. Jamak diketahui, secara umum, hierarki di dalam birokrasi Indonesia dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu golongan kepangkatan dan jabatan struktural. Golongan kepangkatan PNS dimulai dari Golongan I-A, dan berakhir dengan golongan pangkat tertinggi, yaitu IV-E. Selain golongan kepangkatan, hierarki disusun berdasarkan jabatan struktural, yang dinyatakan dengan eselonisasi, mulai dari Eselon IV (paling rendah) hingga Eselon I (tertinggi).
Tak usah menganalisis mereka dengan teori birokrasi Weberian atau Marxian. Karena analisis itu memerlukan logika orang besar, sedangkan membahas PNS akan terlalu mulia dengan menyertakan takoh-tokoh diatas. Mbok Jamu, Tukang Becak, Om Ojek, semuanya sudah tahu tanpa harus berteori. Mereka itu gila hormat, sampai-sampai Rakyat Kecil yang bicara dengannya harus menunduk takut dan bicara dengan bahasa “tingkat dewa.” Aduh, aduh.
Bapak Asuh saya PNS, kelas IV-E. Tapi ia mewanti-wanti saya untuk tidak jadi PNS. Loh kok? Mungkin dia takut kalau sejak masih muda, saya akan bermimpi untuk jadi PNS. Jadi menurut dia hanya “bermimpi” untuk jadi PNS saja sudah akan berimbas buruk pada mental anak muda. Tahu sendirilah sebabnya.
Jadi, akupun jadi sinis juga kalau ngelihat PNS, apalagi ditambah-tambahi banyak fakta tentang keburukan dan kebrengsekannya, tambah antipati. Seperti tulisan ini.
Namun, saya masih banyak berharap dengan PNS agar mental dan prilakunya dirubah. Itu saja. Dan tulisan ini dimaksudkan agar mereka mau berubah. Bahwa mereka digaji pemerintah itu adalah uang hasil keringat rakyat banyak, jangan dikibuli terus dan jangan malas bekerja untuk Rakyat.
Jakarta
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar