Selasa, 19 Juli 2011

Cuplikan Diary 15 Juli 2011

...
Rabu Sore [13 Juli 2011] aku jadi berangkat ke Jakarta.
[banyak bagian tulisan ini yang sengaja tak ku uploud di sini]
...
Aku bangun geragapan. Petugas kereta yang membangunkanku. Jam 02.15 [tanggal 14 Juli 2011]. Isi kereta sudah kosong. Tak ada seorang penumpang pun tinggal. Dan tasku—aduh di mana tasku? Petugas tak tahu. Sampai mana ini? Stasiun Kota. Ya Rabb… semua barang bawaanku hilang. Tas dan seluruh isinya. Kaos oblong dan celana yang kupakai, dan HP yang memang di kantong…. Semua baju, surat-surat dan kartu-kartu, hilang. Harus kucari di mana ini ya Rabb? Pasti hilangnya sekitar cikampek sampai St Senin—waktu para pencari rongsokan lalu-lalang memunguti sampah. Dan saat para penumpang ramai-ramai turun. Dan St Senin adalah jarak yang jauh dari sini. Apalagi malam-malam begini ketika taka da angkot beroperasi. Dan lebih tak mungkin lagi ketika membayangkan pada siapa aku harus bertanya tentang tas itu? Pemulung begitu banyak, penumpang begitu banyak. Aku putus asa—dan karenanya tak mau susah-susah mencari.
Akhirnya kuputuskan untuk lapor polisi. Setidaknya ia bisa bantu—paling tidak ia kasih aku surat kehilangan. Tapi ia tidur dan susah dibangunkan. Pintu kuketok bolak-balik, ia tetap tak bangun. Sialan. Jakarta emang sialan, umpatku dalam hati.
Dan aku berjalan pergi….
Naik Trans kebablasan sampai Shelter GBK—harusnya transit di Dukuh Atas. Aku pun kembali ke Dukuh Atas. Masih Pagi—belum ada jam enam. Tapi udah antre. Huh, kota tua ini sudah tak mampu memanpung orang, tapi tetap dipaksa. Dan seperti biasa, di jalanan Jakarta, adalah tipikal orang-orang individualis yang kutemui. Aku jengkel sendiri, tapi tak kaget, karena sejak dulu memang seperti ini.
Tugu monas kelihatan ronanya dari jendela Trans. Aku teringat ketika diatas menara itu dengan Makhrus dan Ali dulu—mereka berdua sudah lulus sarjana di Surabaya. Aku tertinggal dan terlempar di Jogja. Kisah hidup yang bisa dikatakan tragis, tapi jadi biasa ketika kujalani dengan keikhlasan. Aku memang harus banyak belajar tentang keikhlasan menghadapi hidupku ini. Dan di Jogja aku menikmati dan bahagia. Apalagi disana kutemukan mutiara hidupku—Intan.
***
Sampai Kantor Bapak Asuhku (Prof Kikiek) tempat aku harus bantu-bantu kerja. Kawan2ku masih tidur—kebiasaan bangun siang. Sepi. Ketemu mas Roni yang dari beli lontong. Dan Pak Tyo yang sedang menyapu. Ia OB di sini.
Ali memberiku kaos, celana dan baju untuk kupakai ganti. Pak Tyo juga. Aku merasa bersyukur punya teman2 sebaik ini. 

Ternyata ada tambahan pegawai baru. Laili (Leli) namanya. Asal Kebumen. Anak seorang kiyai—aku tak tahu namanya. Alumnus Biologi UGM 2007. Mantan wartawan Kedaulatan Rakyat 2009-2011. Ia enak diajak bicara. Perawakan kecil, wajah lumayan cantik. Katanya dulu aktif di KAMMI sehingga dulu ia pun berjilbab besar. Tapi kini sudah ia tinggalkan.
...
...
***
BPJS
Seperti dugaanku jauh-jauh hari, BPJS akan gagal. Dan hari ini memang GAGAL. Padahal draft RUU-nya sudah dibikin oleh DPR. Tapi Badan Eksekutif yang kurang setuju. Ah, betapa tak pantasnya SBY dan para mentrinya menduduki Badan Eksekutif.

Tidak ada komentar: