Selasa, 26 Juli 2011

Senori, Tuban (Sekelumit Catatan)


Setelah lama meninggalkan kampung itu, rasanya aku ingin menulis tentangnya. Ya, Senori. Senori adalah salah satu kecamatan yang terletak di ujung paling barat daya kabupaten Tuban. Sebuah daerah yang lumayan subur. Tapi sayang, ketika aku beranjak dewasa, daerah irigasi mulai rusak parah, sehingga seringkali petani harus gagal panen.

Daerah ini tak banyak ditulis di media cetak, atau online. Padahal kalau ditelisik secara mendalam, daerah ini punya banyak potensi. Nah, aku jadi teringat satu takoh, namanya Mbah Abul Fadhol. Beliau tergolong orang besar dengan berbagai karya. Tapi sayang, warga ini banyak yang melupakannya. Tapi bukan itu yang ingin aku tulis di sini. Tulisan ini hanya gambaran kasar saja tentang daerah ini.

Demografi
Mata pencaharian penduduk mayoritas buruh tani, petani gurem, petani, pedagang. Lalu PNS. Rata-rata tergolong daerah minus. Dalam artian, pengasilannya mayoritas dibawah 10 ribu perhari. Pengangguran juga banyak. Bahkan tak jarang pemuda-pemuda hura-hura di sini karena mereka menganggur.

Pendidikan
Daerah ini banyak sekali pesantren-pesantren. Pengaruh kiai hingga saat ini masih kuat. Mungkin orang masih banyak yang beranggapan bahwa apa yang dikatakan kiai pasti benar. Karena kata-kata kiai selalu berdasarkan ajaran Islam. Ya, kecuali mereka yang “abangan.” Oleh karenanya, banyak juga anak-anak dari luar Senori yang mondok di daerah ini. Biasanya sambil sekolah formal.

Penduduknya sebagian besar hanya mengenyam SD. Itu yang sudah tua-tua, bapak-bapak atau ibu-ibu. Yang muda-muda mulai ada perbaikan tingkat pendidikan. Bahkan lulusan sarjana kini mulai menjamur.

Lembaga pendidikan formal juga lumayan banyak. Sekedar menyebut nama, yang paling besar adalah Yayasan Sunnatunnur. Pengelolaannya lumayan kuno dan seolah-olah ada semacam oligarki kepemimpinan di sana. Dan pemimpinnya para kiai. Pokoknya, agak susah jika ada orang yang ingin jadi guru di sini, tapi dia bukan kerabat atau orang yang dekat dengan kiai.

Politik
Karena mayoritas NU, maka bisa ditebak, partai yang dominan adalah PPP dan PKB. Bahkan pasca-reformasi 1998 hingga Gus Dur lengser, pendukung kedua partai ini saling cekcok. Malah ada juga yang sesame tetangga cekcok gara-gara yang satu PPP yang satu PKB.

Tapi kini masyarakat sudah mulai jenuh dengan partai-partaian. Mereka tahu, kalau ternyata mereka hanya dijadikan permainan politik belaka. Oleh kiainya sendiri sekalipun. Makanya, ketika kiai yang awalnya diikuti secara fanatik, kemudian terjuan ke politik praktis biasanya pengikutnya akan berangsur menurun.

Ekonomi
Hanya ada satu pasar di Senori. Letaknya di sebelah barat laut dari perempatan senori. Pasar ini hanya beroperasi pada hari Pon dan Kliwon (hari pertama dan ketiga penanggalan Jawa kuno). Jadi bukanya dua kali tiap lima hari.

Barang-barang yang dijual di Pasar itu lumanyan beragam. Tapi yang paling banyak adalah sembako.
Makanan di warung-warung daerah ini tergolong sangat murah. Bahkan sampai saat ini ada yang masih menjual sepiring 1.500 rupiah.

Karena mayoritas pekerjaan penduduknya buruh tani, maka mayoritas mereka miskin.

Birokrasi Pemerintahan
Ada kantor kecamatan yang lumayan bagus. Tapi sayang, pegawai-pegawainya (para PNS itu loh) tak sebagus kantornya. Banyak dari mereka yang datang telat. Selain itu, seringkali jika ada penduduk yang mau mengurus surat-surat pasti akan dimintai “fulus pelancar.” Banyak tetangga saya yang mengeluhkan kalau mau membuat KTP harus membayar 20-25 ribu rupiah. Dan oleh pegawainya, hal itu dianggap sudah wajar.

Ada satu kantor Polisi di sana: Polsek Senori. Tapi, tahu sendirilah. Penduduk masih menganggap kalau polisi itu tidak ada gunanya—atau malah bikin ribut saja. Ini juga harap dimaklumi, karena oknum-oknum yang ada gendut-gendut, pertanda hidup mapan dan tak terlalu mengurusi warganya. Yang paling diurusi yang hanya soal duitnya saja. Cobalah tanya warga di sana, pasti pamor polisi itu jelek. Tapi, kayaknya mereka sudah mulai memperbaiki kelakuan yang demikian itu. Semoga saja menjadi lebih baik.

Untuk TNI, saya tak ingin bicarakan di sini. Soalnya saya gak begitu tahu kerjaannya. Yang saya tahu, mereka itu nganggur.

Untuk birokrasi desa, ruwet. Kayaknya, masih juga banyak korupsi, tapi sayang banyak warga gak tahu. Itu saja dulu dari saya. Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat.

Jakarta, 26 Juli 2011
Taufiq


1 komentar:

AUFA RABBIT mengatakan...

snori skrg dah agak ramai lho boz!!!!. Ekonomi jg sudah ada kmajuan. He he