Selasa, 26 Juli 2011

Catatan tentang Film Dokumenter dari KontraS


1. Seni Ditating Zaman
Oleh: Putu Oka Sukanta Lilik Munafidah Hendro Sutono
Film dokumenter yang berkisah tentang seniman-seniman eks-Lekra yang tetap terus berkarya meski mendapat tekanan dari rezim Orba.
Seperti diketahui, Tahun 1955-1965, kiprah Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berperan gagah dalam mengdihupkan karya-karya revolusioner dengan haluan “realisme sosialis.” Lekra memang sejak awal berjargon “Politik sebagai Panglima.” Politik tanpa kebudayaan masih bisa jalan. Sementara kebudayaan tanpa politik, lumpuh. Politik yang dimaksud di sini bukan semata-mata politik praktis seperti apa yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya—terutama kaum Manikebuis. Politik adalah kebijaksanaan untuk mengatur rakyat agar rakyat sejahtera.
Lekra—dalam film ini—disebutkan tentang hubungannya dengan PKI. Apakah Lekra underbow PKI atau bukan, masih pro-kontra. Namun, sejak peristiwa 1965, seniman-seniman Lekra ditangkapi oleh rezim. Banyak yang dipenjara, dibuang, dibunuh. Semua itu tanpa proses pengadilan. Mereka yang tergabung dalam organisasi-organisasi yang underbow Lekra, mengalami nasib yang tragis dibawah rezim Orba. Hal ini disebabkan, siapapun yang bernaung dibawah Lekra dianggap Komunis, atau simpatisan PKI.
Film ini mengisahkan para seniman, sastrawan, dan pekerja-pekerja kebudayaan yang masih terus tergerak untuk tetap berkarya, meskipun hak-hak mereka dibatasi. Selain itu, film ini juga menceritakan tentang “Prahara Budaya 1965” dan pertarungan antara Kaum Manikebuis dengan jargonnya “seni untuk seni” dan Pekerja budaya Lekra dengan “seni untuk Rakyat.”
Begitulah kira-kira.

2. Plantungan
Film dokumenter Plantungan durasi 46 menit berkisah soal penderitaan dan kekuatan perempuan tahanan Orba di kamp Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. Kamp ini bekas Rumah Sakit lepra.
Seperti banyak ditulis sejarawan, semisal Hermawan Sulistyo dan Asvi Marwan Adam, peristiwa politik tahun 1965 di Indonesia diperkirakan menelan korban jutaan jiwa. Mereka yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia dibunuh, dihilangkan dengan paksa, serta ditahan dan dipenjara tanpa proses pengadilan. Di antara mereka, banyak perempuan yang menjadi korban.
Sekitar 500 perempuan ditahan di Plantungan (Kendal, Jawa Tengah). Di sana Komnas Perempuan menemukan setidaknya dua kasus kehamilan karena kekerasan seksual (Komnas Perempuan)
Film ini disutradarai oleh Fadillah Vamp Saleh dan Putu Oka Sukanta. Film ini mendokumentasikan kekerasan yang dialami beberapa perempuan korban/survivor peristiwa politik 1965. Film ini diproduksi oleh Lembaga Kreativitas Kemanusiaan, sebuah lembaga yang didirikan oleh seniman dan keluarga eks tahanan politik. Plantungan mengungkapkan kehidupan perempuan di dalam tahanan dengan berbagai tekanan dan kekerasan yang mereka alami, salah satunya adalah eksploitasi seksual.

3. Tji Durian
Masih Seputar Korban Peristiwa 1965. Film ini mencoba merajut kembali serpih-serpih pemahaman yang tersisa tentang bagaimana rumah-kantor milik kepala rumah tangga Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakjat), Oey Hay Djoen di Jl Tjidurian no 19, cikini yang dirampas, diduduki, kemudian dijual ke pihak lain oleh aparat negara Orde Baru. Sekarang telah berubah menjadi gedung mewah bertingkat dengan fungsinya yang baru pula. Perampasan gedung dan penguburan ingatan berlangsung secara terstruktur dan sistematis oleh penguasa Orde Baru, sehingga terjadi kesenjangan dalam lintas perjalanan sejarah negeri ini.
Dikisahkan pula, seperti Film Senin Ditating Zaman, tentang kiprah Lekra masa lalu yang begitu gagah mengawal jalannya revolusi lewat kesenian dan kebudayaan. Selain itu, ada banyak statemen pekerja-pekerja seni Lekra yang merasa betah berproses di Lekra. Dan dalam proses itu dikatakan, tidak ada indokrinasi di sana. Tetapi memang benar-benar balajar berjuang demi rakyat lewat jalur kebidayaan.

Sutradara: Lasja Susatyo dan M. Abduh Aziz
Produser : M. Abduh Aziz, dan Putu Oka Sukanta

Tidak ada komentar: