Jumat, 24 September 2010

(untitled)

Ia menangisi gundukan tanah tempat ibunya dikuburkan setelah setahun yang lalu pergi ke alam jauh. Ia ingin ibunya mendengarkan keluh-kesahnya seperti dulu waktu kecil. Ia ingin dielus kepalanya dengan kasih sayang. Ia ingin meminta ibunya menceritakan hal-hal yang membuatnya kembali tenang dan tidur nyeyak setelah seharian bergejolak. Tapi kini hal itu tidak akan ia dapatkan kembali.

Ia memeluk batu nisannya. Meneteskan air mata. Menjerit dalam hati. Menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada. Tentang cita-cita yang gagal untuk ia capai. Tentang mimpi-mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan. Tentang cinta sejati yang tak pernah ia temui. Dan ia tahu, tak mungkin ada jawaban lagi seperti dulu.

“Baiklah ibu, aku kembali. Doakan aku bahagia, sebagaimana kudo’akan kau agar bahagia selalu di sana” pamitnya disaksikan dedaunan yang berguguran. Seolah ibunyalah yang menaburkan dedaunan itu. Dan daun-daun yang menimpa punggungnya ia rasakan seperti sentuhan tangan ibu dengan penuh kelembutan. Dan hatinya kembali tenang.

Mendung yang menutup matahari kini menurunkan gerimisnya. Mengiringinya pulang dari makam. Membasahi rambut dan punggungnya. Dan ia tidak berlari seperti biasanya. Lari karena takut basah. Ia mencoba meresapi tiap titik gerimis yang menimpa. Titik gerimis yang menembus pori-pori, darah-daging, dan menyentuh hati.

Mungkin, beginilah realita. Realita akan terasa indah jika benar-benar dinikmati tiap lekuk-relungnya. Dan ia kini benar-benar menikmati tiap lekuk hidupnya.

Ia bahagia. Ia sangat bahagia di perjalanan itu. Ia tak lagi merasakan sakit pada kakinya oleh kerikil-kerikil yang berhamburan. Ia tak lagi merasakan hatinya yang berlubang-lubang. Ia sangat tenang.

Tapi petir datang menyambarnya di tengah jalan. Membuatnya dengan sekejap menyusul ibunya….


Surabaya, 23 June 2010
a. taufeq

Tidak ada komentar: