Kejadian ini sudah lama—beberapa tahun yang lalu, di Jakarta. Pada mulanya adalah ketidaksengajaan. Kutemukan lagu itu waktu mencari sesuatu yang berbau kiri di Youtube. Aku dengarkan lagunya—dengan sabar. Aneh, asing. Aku mengalami déjà vu. Padahal aku belum pernah mendengar sebelumnya. Aku mencoba meresapi lagu itu. Sepertinya bahasa jawa—tapi sekilas aku tak faham, padahal aku orang jawa. Dan benar, setelah kucari-cari keterangan tentang lagu itu di internet, lagu itu pernah dilarang oleh rezim Orba karena dianggap trademark PKI. Tapi aku tak ingin membahas tentang itu.
Aku cermati baik-baik tiap bait lagu itu. Menurutku, isinya tidak berbahaya. Ia hanya menceritakan tentang gulma, namanya rumput genjer-genjer, biasanya mengganggu tanaman padi—setahuku di kampung. Dan gulma itu diambil oleh orang-orang desa untuk dijual atau dimasak. Itu saja. Tak lebih. Barangkali karena saking melaratnya orang-orang desa sehingga tidak mampu membeli lauk-pauk. Dan genjer-genjer dijadikan alternatif. Ya, mungkin lagu ini semacam pembelaan terhadap orang susah dengan menunjukkan kepedihan realita. Pada pemerintah tentunya.
Waktu itu bulan ramadhan. Malam hari, aku selalu mendengarkan lagu itu. Tak puas-puas. Yang aku dengarkan adalah versi Bing Slamet. Seperti yang ada dalam soundtrack film Gie, produksi Miles yang sempat tenar beberapa tahun lalu. Aku menyukainya. Aku bahkan terlarut dalam setiap bait lagu itu.
Dari bait pertama, akulah seolah-olah orang yang memetik gulma itu. Aku juga si Tole. Aku yang menjual dan memasaknya. Entahlah, mendengar lagu itu, aku merasa pulang kampung. Aku kembali bergelut dengan padi seperti waktu kecil. Aku mencerabuti gulma-gulma yang mengganggunya. Sambil bermain rumput dan ikan-ikanan pastinya. He he….
Dan sampai saat ini, aku masih suka mendengar lagu itu. Indah. Mungkin kau bilang aku simpatisan PKI sehingga menganggap lagu itu indah. Tak pa-pa. Toh tak terpengaruh juga dengan perasaanku. Ini bukan urusan politik—praktis. This…, just music! Aku benci politik. Seperti aku membenci Mie goreng—instan. Mereka berdua sama-sama membuatku muak. Dulu memang aku suka, tapi tidak sekarang. Mungkin nanti bisa berubah suka kembali. Tapi rasa-rasanya, sangat mungkin kemungkinannya.
Ada lagi satu kejadian. Menurutku aneh. Waktu di kampung, saya main gitar-gitaran sama seorang sahabat, Sifa’ namanya. Dan kebetulan kami menyanyi lagu Genjer-genjer, e e, ternyata dimarahi oleh orang-orang tua yang dengar. MasyaAllah. Betapa suksesnya indoktrinasi Soeharto dalam meracuni masyarakat.
Sampai di sini aku kehilangan ide mau menulis apa. Ya sudah. Saya akhiri saja tulisan ini. Gitu aja kok repot!
Oia, hampir lupa, saya rekomendasikan lagu itu buat kalian yang mau mendengar. Dan selamilah maknanya. Jika kau tak temukan keindahan di situ, kau sendiri yang harus membentuk keindahan itu. Bukankan memang begitu sejak dulu?
Surabaya, 15 Juli 2010
A taufeeq
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar