Sabtu, 25 September 2010

Pulkam (sebuah catatan jalanan)

SB Turi

Hujan. Dengan berbagai proses yang membuat dadakku sesak, aku sampai di pintu gerbong paling belakang kereta jelata. Aku duduk merenung, seperti biasa.

Kereta berangkat. Aku menekuri jejak lindasan roda kereta. Aku tak mau peduli pada orang-orang yang ada dalam gerbong. Entah penumpang, entah pedagang asong. Aku sudah jemu melihat ketidak-adilan dan penindasan. Aku bosan melihat rintihan para jelata. Melihat gerak-gerik mereka membuat jiwaku tersiksa, yang pasti hanya berujung pengutukanku pada pemerintah, bahkan pada takdir Tuhan. Yups, hanya mengutuk. Tak lebih. Tentang nasib mereka, tentang nasibku sendiri. Aku tak mau lagi melihat kenyataan. Aku hanya ingin menenggelamkan diriku dalam khayalan.

Tapi petugas pemeriksa karcis membuyarkan khayalanku. Kuserahkan karcis yang kubeli tigaribu dengan berdiri antre 15m dua jam lalu. Dan di belakangnya kulihat nenek tua menjual nasi, kripik tempe, tahu, kacang…. Aku tak membeli. Aku hanya tersenyum menggeleng. Aku tak punya cukup uang untuk membeli. Akhirnya ia pergi.

Sawah berlarian. Juga pohon-pohon, semak belukar, sampah, dan masa laluku yang terpahat dalam memori yang seolah abadi. Dan aku tertidur, tenggelam dalam bayanganku.

Pucuk!


Kereta kembali berjalan. Aku tersadar bahwa aku sudah sampai separo perjalanan. Dan kemiskinan itu, penindasan itu, ketidak-adilan itu tetap mnyiksa jiwaku. Dan aku tak berdaya. Tapi, akankah aku terus tak berdaya menerima kenyataan dan mengubahnya?

Masa lalu adalah mimpi gelap yang terlewati. Masa depan adalah misteri yang belum tentu ada. Dan masa kini adalah karunia bagi setiap orang. Ya, tentu setiap orang tahu bahwa dibalik karunia selalu ada kutukan. Semacam konsekuensi dari karunia. Dan aku memang seperti orang yang mengangkangi dua hal itu. Karunia sekaligus kutukan. Tapi aku tak mengerti arti kedua-duanya.

Dan semak-belukar itu mengacak-acak lamunanku kembali. Ia memanggil-manggil meminta perhatian. Tapi bukan padanya perhatianku tertuju. Aku sibuk dengan khayalanku sendiri. Tentang ilusi-ilusi yang menjelma sebuah kehidupan bermasyarakat nan damai sejahtera. Utopis!

Tapi bukankah ada hal-hal yang dapat dipetik manfaatnya dari setiap utopia?

Bojonegoro!


Akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa hidup selalu berakhir. Entah manis, entah tragis; tergantung nasib. Dan nasibku kini seolah menggantung dan melayang terbang bersama khayalanku yang tak jelas arahnya. Mungkin menuju Tuhan, mungkin pula menuju setan—yang keduanya sama-sama tidak kelihatan.

Dan kaki ini terus melakukan tugasnya membawa tubuhku memasuki labirin perkampungan. Tak terasa airmataku bertumpah, melihat gersang tanahku, gersang jiwaku.


Surabaya-Jakarta
26 September 2010

Taufeeq

Tidak ada komentar: