Sengat panas matahari kota ini mulai turun. Jam dinding stasiun menunjukkan angka setengah empat, tanda kereta kereta api yang akan kutumpangi ini segera berangkat. Dan benar, masinis mulai menyalakan mesinnya. Terdengar berdesing-bising beriringan dengan bunyi sirine. Dan imbauan dari petugas stasiun lewat mikropon mulai berkoar-koar. Aku pun segera naik. Berebutan tempat dengan para penumpang lain. Maklum, ini kereta rakyat jelata.
Perlahan kereta ini mulai berjalan. Aku mencari-cari tempat duduk yang kosong. Ternyata tidak ada. Semua kursi penuh. Akhirnya aku duduk tepat di tengah pintu, di gerbong paling belakang. Kugelar koran bekas sebagai alas dudukku. Aku menghadap ke belakang sambil tanganku berpegangan pada gagang pintu. Kulihat rumah-rumah seolah berjalan menjauh dariku. Dan rel yang memanjang, seolah ia adalah jejakku. Jejak yang kutinggalkan untuk sebuah tempat yang kutuju. Aku seperti ditarik dari masa lampau, dan sepertinya aku tak rela sehingga kuperlukan untuk menengoknya, melambaikan tangan. Ah bayangan itu….
Di kota ini, keberadaanku seperti tak ada gunanya. Aku seperti tercampakkan dari laju kehidupan. Aku lebih mirip dengan parasit yang meng menghisap “darah-tulang” teman-temanku. Aku seperti sampah. Tak ada gunanya selain menyebar kebusukan ke setiap tempat di mana aku berpijak. Dan aku tak ingin hal itu terus berlanjut. Karena semua itulah, aku memutuskan pergi. Semoga keputusan ini adalah yang terbaik.
Aku ingin memulai sebuah kehidupan baru. Tapi bukan di kota ini—kota ini telah membuatku seperti terbuang percuma. Aku ingin suasana baru di mana aku akan memperbaiki segala hal yang pernah aku lakukan di masa lampau. Ini bukan sebuah pelarian dari masalah. Tapi lebih pada mencari pengharapan setelah harapan masa lampau kocar-kacir.
Stasiun demi stasiun terlewati. Entah berapa stasiun, aku tak menghitungnya secara rinci. Yang jelas, hari sudah mulai gelap. Malam seolah datang begitu saja tanpa permisi. Aku mulai kedinginan karena angin. Dan aku pakai jaketku yang sedari tadi hanya tersampir di bahuku. Ada pedagang asongan datang. Kopi kopi kopi, katanya. Aku membelinya. Aku memang penyuka kopi kelas berat. Tapi rokok tidak. Aku benci rokok. Seringkali aku mengumpat-umpat jika kulihat orang merokok di tempat umum. Tapi hanya dalam hati tentu. Seperti seorang lelaki yang ada di dekatku, waktu ia menatapku dan menawarkan rokoknya, aku hanya tersenyum mengangguk. Meski dalam hatiku mengumpat.
Suhu udara semakin dingin. Sambil menyeruput kopi, kurangkai sedikit demi sedikit ingatanku atas semua yang kulakukan di kota yang aku tinggalkan. Kurangkai setiap kesalahan-kesalahan yang menjadikan impianku waktu SMA kocar-kacir karena hanya menuruti perasaan. Dan kukristalkan pengalaman-pengalaman itu dengan menulisnya dalam buku harian yang selalu kubawa kemana-mana. Seperti saat ini. Aku sadar, aku mudah lupa. Karena itulah, menuliskan apa yang pernah aku alami, menjadi sebuah rutinitas harianku. Tentu dengan tujuan agar semua hal yang sempat singgah dalam memoriku tidak menguap begitu saja.
Kopiku habis. Tulisanku habis. Tapi anganku tiada habis-habisnya. Kubayangkan sebuah kehidupan baru yang lebih baik di kota yang aku tuju. Mimpi-mimpi. Ia datang dan pergi begitu saja. Ia selalu saja indah. Tapi sayang, kenyataan seringkali bertolak belakang dengan apa yang diimpikan. Seperti yang terjadi padaku saat ini. Dulu aku membayangkan bahwa kuliahku berjalan lancar, sambil bekerja di sebuah perusaahaan dengan gaji besar. Tapi mimpi itu tetap tinggal di awang-awang.
“Karcis!” ucap petugas kereta membuyarkan lamunanku. Kuserahkan sesobek kertas yang tadi kubeli dengan sabar mengantri sepanjang sepuluh meter.
Uh, Tuhan, maafkan aku jika masih mengeluh padaMu.
Juli-September 2010
Surabaya-Jogja-Jakarta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar