Kawanku, padamu aku ingin menyandarkan wajahku pada bahumu, kala titik-titik airmataku tak lagi mampu kubendung. Aku ingin kau menenangkanku saat jiwaku semakin terguncang oleh coretan-coretan kelam yang memenuhi kanvas sejarah manusia. Dan itu tampak nyara di depan mataku.
Sesungguhnya sudah lama sekali aku ingin lari dari dunia. Tapi kemana? Aku masih takut mati. Takut doktrin-doktrin yang diajarkan para kiyai tentang kematian yang katanya sangat menyakitkan. Dan doktrin-doktrin menakutkan itu terlanjur merasuki seluruh syaraf otakku. Lagi pula, lari dari dunia adalah istilah lain dari rasa putus asa, adalah istilah lain dari pengingkaran terhadap segala karunia. Pernah aku berhari-hari menenggelamkan diriku dalam dunia khayalan, dunia yang kuciptakan sendiri dari gelembung-gelembung utopia yang bertebaran dalam otakku. Tapi dunia itu dengan mudah sekali hancur saat aku terbentur sebuah kenyataan yang sulit untuk aku terima.
Mungkin kau pernah memergokiku berhari-hari di depan computer. Entah nonton film, dengerin music, baca-baca, atau menulis sesuatu. Yang pasti, semua itu kulalukan agar aku melupakan kengerian kehidupan yang menghantuiku. Tapi sayang, semakin aku lari, semakin aku dikejar-kejar. Aku sudah tak tahan.
Kawanku, aku ingin kau membantuku menenangkan diri. Aku ingin kau membuatku merasa tak pernah ketakutan menatap wajah dunia. Maaf, jika masih bergantung denganmu. Tanpamu, aku merasa tidak ada.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar