Engkau telah mengajariku bagaimana memahat sejarah
Lewat nyanyian merdu yang tiap senja kaudendang
Lewat tatapan mata, untaian kata dan tarian pena
Tapi aku belum mengerti bahasamu
Engkau menabuh lonceng
Menulis prasasti
Menghimpun serakan patung-patung yang kemarin kau cipta dengan benjolan sana-sini yang ternyata lebur hanya oleh angin malam yang datang tiba-tiba
Engkau menghentak bumi
Menawarkan idealisme dan realisme
Tapi aku belum mengerti bahasamu
Selama kutub kita bersebarangan
Dan arah yang tak pernah menuju satu titik
Ada sekian persepsi yang melahirkan kontroversi tapi bukan berarti harus kita adili
Dan warna-warna
Tak pernah memaksa berseragam
Dan hatiku dan hatimu yang selalu bersisipan
Membuat diri harus belajar arti sabar dan menerima
Bahwa hijaumu dan merahku, tak lebih dari bulu-bulu yang bertebaran entah kemana
Meski yakinku Satu
Grafitasi selalu ada—selalu menang
Di situlah aku menantimu!
Barito 11 Juli 2010
A Taufeq
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar