Senin, 27 September 2010

Sejarah Utopis itu Bernama Republik Damai

Aku ingin menulis sejarah. Tapi bukan tentang perebutan kekuasaan. Bukan tentang ketidakadilan dan penindasan. Bukan pula tentang peperangan dan darah.

Aku ingin menulis sejarah. Tentang sebuah negeri yang damai sentosa. Tentang keadilan dan kemanusiaan yang dijunjung setinggi langit. Tentang perdamaian abadi. Dan sejarah itu akan kuberi judul: Republik Damai.

Aku teringat akan perkataan Ben Anderson tentang imagined community. Tapi bukan berarti aku ingin memaparkannya. Aku hanya ingin membuat frasa lain yang sedikit mirip. Ia bernama Imagined History. Dilihat dari frasanya saja sudah kontradiktif. Tapi aku tetap ingin mengabadikannya. Dalam bentuk buku-buku. Atau prasasti-prasasti. Agar generasiku tahu, bahwa leluhurnya pernah membayangkan sebuah cita-cita yang akan dibangun secara berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Agar generasiku tahu, bahwa leluhurnya memberikan tongkat estafet padanya yang berbentuk sebuah harapan yang disandarkan di pundaknya.

Berlembar-lembar kertas aku persiapkan di atas mejaku. Rencananya tulisan itu sangat panjang. Akan memenuhi perpustakaan standar dunia. Dan pulpen yang ada di tangan sejak tadi mulai mencoret-coret lembar kertas yang pertama aku ambil. Tertulislah awal paragraph.
“Republik Damai adalah sebuah negeri yang….”

Macet. Entah kenapa tiba-tiba pulpenku berhenti seiring bayanganku tentang republic itu terbentur kenyataan. Aku tak habis pikir. Imagined History yang ingin aku abadikan melebur begitu saja dalam angan-angan kelam. Selebihnya kosong. Dan dalam kekosongan itu muncul beragam kenyataan yang mengerikan.

Berjuta janji palsu, intrik-intrik para politisi yang lebih mirip tikus berebut pindang, KKN merajalela dan sampah dalam arti konotatif maupun denotative, yang kesemuanya itu membuatku muak.

Aku palingkan mukaku dari kertas. Menghadap tanah. Tanah yang haus darah para pejuang sewaktu merebut dari tangn penjajah. Hatiku ngilu.

Repulik Damai yang ingin kuabadikan itu, sebatas utopia. Sayang, utopia tempatnya bukan di dunia kita, dunia para muggle dengan segala sayap dan akarnya.

Tapi, apakah utopia itu sama sekali tak ada gunanya?

Sesungguhnya, setiap orang berhak untuk berandai-andai. Meski itu tak dapat dikategorikan sebagai Sejarah. Karena memang belum ada yang namanya Sejarah Andai-Andai. Tapi aku tetap memaksa.


Taufeeq
Jakarta 27 September 2010

Tidak ada komentar: