Ia percaya bahwa hujan ternyata bisa turun tanpa didahului mendung. Titik-titik air yang membuat hati menjadi tenteram itu kini menjumpainya. Dan ia membiarkannya menggenang dan mengalir. Sampai pada sebuah muara yang ia beri nama sendiri: kebahagiaan.
Ia sedang bahagia. Hujan lebih dulu datang sebelum ia melihat galau awan. Pelangi-pelangi turut memperindah cakrawala hidupnya. Entahlah, semenjak ia mampu merasakan cinta, ia tak begitu mengerti mengapa hatinya begitu bahagia.
Tapi rupanya tak ada satu hal pun di dunia ini yang tak berubah. Begitu pula halnya dengan apa yang ia rasakan. Tsunami kebahagiaan yang dulu meluap-luap hingga pantai-pantai hatinya kini terasa hambar. Padam dengan riba-tiba oleh sesuatu yang ia sendiri tak begitu mengerti. Mungkin hujan tak turun lagi. Mungkin mendung mulai berdatangan bersama petir-petir yang haus darah manusia. Tapi ia tak begitu yakin. Yang ia yakini hanya satu: ia sedang galau.
“Ah, inikan yang orang-orang sebut Badai?” renungnya dalam hati.
Dan benar, dilihat dari kedahsyatannya, itu memang badai. Hanya saja badai itu tak pernah tampak nyata meski ia sangat bisa merasakannya.
Barangkali, dalam setiap liku jalan hidup, selalu saja ada yang bernama badai. Sebetulnya ia ingin abaikan saja badai itu, tapi tak pernah bisa. Badai selalu hadir menyapa. Badai memang harus dihadapi, entah dengan lemah lembut, atau dengan perang. Itu hanya cara. Yang terpenting ialah, badai memang harus dihadapi, bukan dihindari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar