Sabtu, 26 Februari 2011
Sapaku-curhatku (untuk keluarga J2 '07)
Kawan, aku ingin menyapamu kembali setelah jarak seolah membekukan komunikasi kita. Dan untuk mencairkan suasana, aku ingin bercerita sesuatu. Izinkanlah....
Ketika pertama kali aku tergabung dalam keluarga J2 '07 tiga setengah tahun lalu, aku merasa kaku untuk bersahabat dengan kalian. Aku minder. Sehingga aku pun kurang begitu erat bersahabat dengan kalian. Dan keadaan itu diperparah lagi dengan adanya rasa "berbeda" pada karakterku dengan karakter kalian semua sehingga membuatku terpinggir atau meminggirkan diri.
Mungkin dengan sikapku yang seperti itu, ada sebagian di antara kalian yang menganggap bahwa aku terlalu tertutup, angkuh, sok, keras kepala dan sebagainya, aku terima. Karena kenyataannya memang begitu. Tapi saat itu pula aku juga tahu, bahwa mayoritas kalian menginginkan adanya persaudaraan yang tanpa membeda-bedakan.
Kawan, terkadang apa yang kita jalani, tidak sesuai rasanya dengan hati nurani kita. Ini bukan soal salah benar atau baik buruk. Tapi soal jalan hidup. Dan yang kualami saat itu ketika bergabung bersama kalian, aku merasa tak betah. Bukan masalah hubunganku dengan kalian, tapi masalahnya adalah tentang studiku. Dan akhirnya aku memutuskan pergi.
Setidaknya selama satu setengah tahun, aku intensif bergaul dengan kalian. Dan selama itu pula aku merasa mendapat banyak hal, meski pergaulanku dengan kalian tergolong minim. Maafkan aku jika aku kurang menjiwai dalam pergaulan itu. Aku memang harus lebih banyak belajar untuk itu.
Oya, tiga setengah tahun lalu sudah lewat. Sekarang kalian mulai mempersiapkan kelulusan. Artinya, kalian akan dihadapkan pada kehidupan nyata setelah sekian lama mencecap ilmu dari kampus. Sementara aku masih mahasiswa. Dan masih butuh waktu agak lama lagi untuk menyusul keterlambatanku atas kalian.
Setelah kalian lulus, aku ingin berpesan kepada kalian, tapi jangan artikan ini menggurui. Ketika pertama kali aku memasuki gerbang IAIN, aku membaca baliho yang terpampang di sana dengan pesan Nabi kita "Khairunnas anfauhum linnas." Entah baliho itu sekarang masih ada atau tidak, aku tak tahu. Tapi sedikit banyak aku yakin, bahwa pesan yang tertulis itu akan menancap di hati kita masing-masing. Meski terkadang sulit untuk melakukannya.
Ah, aku terlalu banyak berkata-kata.Tapi dengan itu semua, aku masih ingin dianggap sebagai keluarga kalian, meskipun kita memang jarang bertemu.
Kawan, lewat surat-curhat ini aku menyapa kalian. Semoga apa yang kita alami bersama dulu, menjadi bermanfaat untuk menghadapi masa depan kita. Aku ingin bersaudara. Dan persaudaraan ini abadi dalam selimut kasih sayang Allah Subhanahu wata'ala.
Jakarta, 26 Feb 2011
A Taufeq
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar