A. Profil Dinasti Fathimiyah
Di Tunisia tahun 909, sekelompok golongan Syi’ah Ismailiyah dari Afrika Utara mendirikan sebuah Dinasti. Namanya Dinasti Fathimiyah atau Fathimiyun (bahasa Arab الفاطميون). Nama yang berasal dari nama putri Rasulullah: Fathimah. Dinasti ini didirikan ketika kondisi Dinasti Abbasiyah di Baghdad melemah dan tidak mampu lagi mengatur daerah kekuasaannya karena terlalu luas.
Kelompok Syi’ah Ismailiyah Afrika Utara itu sendiri adalah sebuah pergerakan yang merupakan cabang dari kelompok Syi’ah, yang mengakui enam Imam pertama Syi’ah, tetapi berselisih mengenai Imam ketujuh dengan Syiah Islamiyah pada umumnya.
Penelusuran tentang awal terbententuknya kelompok ini belum begitu jelas, selain hanya diketahui bahwa kelompok ini merupakan kelompok Syiah yang menyempal. Mereka mengimani bahwa Ismail bin Ja’far lah Imam yang ketujuh, bukan yang lain. Karena itu, ketika khalifah-khalifah Abbasiyah mengadakan penyelidikan, maka mereka terpaksa meninggalkan Salamiyah, kota kecil di wilayah Hammah, Syria, menuju Afrika Utara. Di sinilah mereka mulai melancarkan propaganda politik untuk memperoleh dukungan rakyat.
Keberhasilan kelompok tersebut dalam mempengaruhi masyarakat tak lepas dari propagandis-propagandis yang dipimpin oleh seorang orator handal Ismailiyah bernama Abu Abdullah al-Syi’i. Propaganda mereka meliputi: perbaikan ekonomi dan sosial, janji tentang munculnya al-Mahdi yang akan membebaskan rakyat dari penindasan dan ketidakadilan, menyatakan bahwa mereka akan lebih dekat kepada Nabi dari pada Dinasti Ummayyah dan Abbasiyah.
Selanjutnya gerakan ini memperoleh banyak dukungan sehingga mampu mengusir Dinasti Aghlabi dari Afrika Utara dan menjadi penguasa. Abu Abdullah mengundang Ubaidillah yang mereka klaim sebagai al-Mahdi dan Januari 910 menjabat sebagai Amirul Mukminin. Dengan dimikian resmilah berdiri sebuah dinasti baru yang bernama Dinasti Fathimiyah dengan Ubaidillah al-Mahdi sebagai khalifah pertama.
Kekhalifahan Ubaidillah itu menjadi semakin kuat ketika berkoalisi dengan suku-suku Barbar—yang masih keturunan Bani Umaiyah—yang memang sejak dulu mempunyai dendam politik terhadap Dinasti Abbasiyah yang sunni yang dalam hal ini termanifestasi dalam kerajaan satelitnya: Dinasti Aglabiyah di Sijilmasah, Tunisia. Dendam politik itu dimulai sejak pembantaian yang dilakukan Dinasti Abbasiyah terhadap Dinasti Umayah yang berarti kehancuran Dinasti Umaiyah Timur. Itulah alasan mengapa Tunisia dijadikan basis untuk membangun kekuasaan dunia Islam baru, guna menandingi hegemoni Dinasti Abbasiyah.
Namun, walaupun berambisi untuk mengalahkan kekuasaan Daulah Abbasiyah, Dinasti Fathimiyah tidak menyerang Baghdad, mereka malah terus meningkatkan propaganda dan berusaha untuk menduduki Mesir yang akhirnya menoreh keberhasilan dengan dikuasainya Fustat (tahun 969). Penyerbuan terhadap Mesir ini dipimpin oleh Jauhar atas perintah Khalifah al-Mu’iz. Segera setelah itu, dia menyatakan Mesir sebagai benteng kekuatan Ismailiyah.
Selanjutnya, fokus politik Dinasti Fathimiyah adalah mendirikan ibu kota baru yang terletak di Fusfat bagian Utara, yang kemudian mereka namai al-Qahirah (Kairo), yang berarti sang penakluk. Sejak itu penampilan Fusfat semakin cemerlang dan mampu menjadi pesaing Kota Baghdad sebagai pusat peradaban maupun pemerintahan di Timur Tengah. Disamping itu, dinasti ini juga berupaya untuk menyebar luas ideologoi Fathimiyah ke Palestina, Syiria dan Hijaz.
Keberadaan Dinasti Fathimiyah berbeda dengan dinasti-dinasti kecil lainnya. Dinasti Fathimiyah mengklaim diri sebagai kekhalifahan yang memegang pimpinan politik dan spritual tertinggi. Mereka tidak mengaku bagian dari Abbasiyah, mereka melepaskan diri dari Baghdad, tidak hanya dari segi politik, tetapi juga faham keagamaan. Sementara dinasti-dinasti kecil lainnya walaupun secara politik melepas dari dinasti Abbasiyah, namun tetap terikat dalam arti sama-sama sunni. Inilah yang membedakan Dinasti Fathimiyah dengan dinasti-dinasti lokal lainnya.
Khalifah-khalifah yang memimpin Dinasti Fathimiyah ada 14 orang yang itu:
- Abu Muhammad Abdullah (Ubaidillah) al-Mahdi billah (910-934). Pendiri.
- Abu Muhammad al-Qa’im bi-Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah (934-946)
- Abh ?ahir Ismail al-Mansur bi-llah (946-953)
- Abu Tamim Ma’add al-Mu’izz li-Din Allah (953-975) Mesir ditaklukkan semasa pemerintahannya.
- Abu Mansur Nizar al-’Aziz bi-llah (975-996)
- Abu Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah (996-1021)
- Abu Hasan Ali al-Zahir li-I’zaz Din Allah (1021-1036)
- Abu Tamim Ma’add al-Mustansir bi-llah (1036-1094)
- Al-Musta’li bi-llah (1094-1101) pertikaian atas suksesinya menimbulkan perpecahan Nizari.
- Al-Amir bi-Ahkam Allah (1101-1130) Penguasa Fatimiyah di Mesir setelah tak diakui sebagai Imam oleh tokoh Ismailiyah Mustaali Taiyabi.
- Abd al-Majid al-Hafiz (1130-1149)
- Al-Zafir (1149-1154)
- Al-Faiz (1154-1160)
- Al-Adid (1160-1171)
Sebagai catatan penting, Dinasti Fathimiyah ini hanya sampai khalifah kedelapan yang memperlihatkan eksistensi politik dan kekuasaannya, selebih dari itu, keberadaannya hanya sebagai dinasti lemah.
B. Kemajuan Dinasti Fathimiyah
Selama kurun waktu 262 tahun, tercatat Dinasti Fatimiyah telah mencapai kemajuan yang pesat terutama pada masa Al-Muiz, Al-Aziz dan Al-hakim kota Kairo sebagai ibukota. Al-Muiz terkenal dengan tiga tiga kebijakannya, yaitu pembaruan di bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama. Di bidang administrasi, ia mengangkat seorang menteri (wazir) untuk melaksanakan tugas kenegaraan. Di bidang ekonomi, ia memberikan gaji khusus kepada tentara, personalia istana dan pejabat pemerintahan lainnya. Di bidang agama, di Mesir didirikan empat lembaga peradilan, dua untuk mazhab Sy’iah dan dua lagi untuk Sunni. Ini memperlihat kerukunan dua aliran di Dinasti Fathimiyah.
Setelah itu, Al-Aziz memunculkan program baru dengan mendirikan masjid, istana, jembatan dan kanal-kanal. Sehingga Dinasti Fathimiyah akhirnya dikenal dengan kekuatan maritim yang tangguh. Kenyataannya, mereka berhasil membangun pertahanan maritim dan menjadi pusat perdagangan laut ketimbang menyebarluaskan ajaran dan ideologi mereka.
Sementara itu, pada masa Khalifah al-Hakim, mendirikan Dar al-Hikmah, sebuah lembaga pusat pengkajian dan pengajaran ilmu kedokteran dan astronomi. Ia juga mendirikan Dar al-Hikmah, sebuah lembaga dengan jutaan buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Pada tahun 1013, al-Hakim membentuk majelis ilmu pengetahuan di istana sebagai tempat berkumpulnya para ilmuwan untuk berdiskusi. Pada masa ini, muncul Ibnu Yunus (958-1009), seorang astronom besar yang menemukan pendulum dan alat ukur waktu. Karyanya, Zij al-Alibar al-Hakimi diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Temuan Ibnu Yunus kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Al-Nabdi dan Hasan Haitani (965-1039), seorang astronom, fisikawan dan opoteker.
Dinasti Fathimiyah juga terkenal dengan toleransi beragamanya. Para penguasa Fathimiyah tidak mencoba melakukan tekanan agar penganut sunni menyeberang ke Syi’ah Ismailiyah. Mereka juga sangat menghargai kemerdekaan agama Kristen maupun Yahudi. Satu-satunya pengecualian adalah pada pasa khalifah al-Hakim, karena ia melakukan pembantaian terhadap penganut agama Kristen, menghancurkan gereja, membunuhi anjing serta mengharamkan jenis makanan tertentu. Di samping itu, ia memproklamirkan sebagai Tuhan dan ia dianggap gila. Inilah titik awal dan alasan terjadinya perang dingin dan meletus menjadi perang Salib nantinya.
Kebijakan-kebijakan cemerlang di atas lah yang akhirnya mengantarkan Mesir menjadi pusat peradaban maupun pemerintahan di Timur Tengah, menyaingi Baghdad, ibukota Daulah Abbasiyah.
Selain itu, Mesir juga menjadi pusat pengembangan intelektual dan keilmuan dengan keberadaan Universitas al-Azhar di Kairo (tahun 970). Pada awal didirikan hingga dua abad kemudian al-Azhar telah memainkan peranan penting, sebagai pusat propaganda ajaran Ismailiyah oleh Dinasti Fathimiyah, Sampai nanti Salahuddin al-Ayyubi menguasai Mesir dan menjadikan Sunni sebagai mazhab pengganti Syi’ah. Meskipun begitu, Kairo tetap mampu menjadi pusat pendidikan Islam terbesar Dunia Islam.
Secara umum kemajuan-kemajuan itu mencakup berbagai bidang:
- Kemajuan dalam hubungan perdagangan dengan Dunia non Islam, termasuk India dan negeri-negeri Mediterania yang Kristen.
- Kemajuan di bidang seni, dapat dilihat pada sejumlah dekorasi dan arsitektur istana.
- Dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan ditandai dengan dibangunnya Universitas Al–Azhar. Universitas ini semula hanyalah masjid yang didirikan oleh al-Saqili pada tanggal 17 Ramadlan (970 M) sebagai pusat kajian yang kemudian baru dikembangkan sebagai Universitas. Nama Al–Azhar sendiri diambil dari al-Zahra, julukan Fatimah, putri Nabi SAW dan istri Ali bin Abi Thalib, imam pertama Syi’ah. Selain itu ada Dar al-Hikmah (Hall of Science), yang bangun atas inspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh al-Ma’mun di Baghdad.
- Di bidang ekonomi, baik sektor pertanian, perdagangan maupun industri.
- Di bidang keamanan.
C. Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Fathimiyah
Kemunduran yang dialami Dinasti Fathimiyah dimulai dengan masa al-Hakimyang ditandai dengan sifat ganjil. Ia menghancurkan Gereja Suci di Yerusalem. Ia juga secara umum menyatakan diri sebaga Tuhan, sebuah klaim yang menimbulkan polemik yang dahsyat di kalangan ummat Islam dan ia dipaksa mencabut pernyataan tersebut. Inilah akhirnya menjadi akar melemahnya dukungan politik terhadap kepemimpinannya, Sehingga pada tahun 1094 terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh panglima militer, al-Afzal Sahinsyah.
Sementara itu, terjadi kekacauan sekitar permasalahan suksesi di masa pemerintahan khalifah al-Musta’ali. Nizar, putera Musta’ali yang tertua dihukum penjara hingga meninggal, namun pengikut Nizar mengakuti bahwa Nizar masih hidup. Ini menimbulkan kekacauan dan melahirkan dua kubu yang saling bersaing, yaitu kubu Must’aliyah dan kubu Nizariyah.
Konflik antara Nizariyah dan Musta’aliyah menimbulkan cabang baru Islamiyah. Putra Al-Musta’ali yang bernama al-Amir menggantikan ayahnya sebagai penguasa di Mesir masih berusia anak-anak, al-Amir akhirnya menjadi korban pembunuhan pada tahun 1130. Sepeninggal al-Amir, Dinasti Fathimiyah semakin mengalami kemunduran. Pada saat itu, timbul pertentangan paham keagamaan antara kalangan penguasaan dengan mayoritas masyarakat yang menganut Sunni. Sejumlah kelompok kecil mengikuti imam mereka masing-masing dan mengabaikan klaim penguasa Fathimiyah.
Pada masa pemerintah al-Adid, Dinasti Fathimiyah mendapat kesulitan untuk menahan masuk tentara salib ke Mesir. Maka pada khalifah al-Adid meminta bantuan kepada Nurddin Zanki. Nurddin akhirnya mengutuskan Shalahuddin al-Ayubi yang membawa tentara ke Mesir untuk menghalau tentara Salib. Karena keberhasilannya, di diangkat menjadi menteri di Mesir.
Namun khalifah al-Adid amat tua untuk memimpin dan tekanan politik makin tinggi, sementara keberhasilan Shalahuddin al-Ayubi membuat dukungan atasnya menjadi khalifah sangat kuat. Pada akhirnya, Shalahuddin al-Ayubi bisa menjadi khalifah dan mengakhiri Dinasti Fathimiyah. Kepemimpin Shalahuddin al-Ayubi mengubah corak kekuasaan sebelumnya Syi’ah beralih ke Sunni. Sehingga dengan begitu, berakhirlah Dinasti Fathimiyah.
Jogja-Jakarta 2010-2011
A Taufiq
Rujukan
Buku
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo, 1995
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV Pustaka Setia, 2008
Philip K Hitti, History of The Arabs, Bandung: Serambi 2008
Cyrel Glase, Ensiklopedia Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002
G. E. Boswort, Dinasti-Dinasti Islam, judul Asli, The Islamic Dynasties oleh Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1993
Maidir Harun dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2002
Abu Su’ud, Islamogy, Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Ummat Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2003
Zaenal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1979
M. Natsir Arsyad, Ilmuwan, Muslim Sepanjang Sejarah, Bandung: Mizan, 1990
Josoef Sou’eb, Sejarah Dahulah Abbasiyah II, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
Website
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Al-Mahdi_Ubaidillah&action=edit
http://www.eramuslim.com
http://stit1a08.blogspot.com/2009/03/sejarah-peradaban-islam.html
http://www.surya.co.id/04/05/2010

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar