Minggu, 27 Februari 2011

Mengintip Kelahiran Syariat

Berbicara tentang syariat, mula-mula memang harus membicarakan tempat dan waktu “Bayi Syariat” itu terlahir. Siapa ibunya. Siapa penyusu dan pengasuhnya. Di mana pula ia dibesarkan. Seperti apa lingkungan yang membentuk karakternya hingga ia menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Mulanya yang kita bicarakan adalah tanah gersang bernama Mekkah. Meskipun selama ini penduduk Mekkah pra Islam dikategorikan sebagai zaman jahliyah (kebodohan), tapi kenyataannya peradaban di sana tergolong maju, tertama dalam hal perdagangan. Bahkan, Mekkah adalah tempat transit jalur perdagangan internasional antara Ethiopia sebelah barat, Yaman sebelah Selatan, Persia sebelah timur, dan Bizantium sebelah utara.

Hanya saja, saat itu kemanusiaan kurang dihargai. Penindasan, ketidakadilan, perbudakan, ketimpangan sosial, merajalela di sana. Dan Islam, hadir di sana sebagai risalah pembebasan atas semua itu.

Mungkin sudah didesain oleh Sang Maha Skenario. Dari salah satu kabilah yang paling eksis di tanah gurun itu, lahirlah bayi yang kemudian hari diketahui bernama: Muhammad.

Muhammad bukanlah Dewa atau malaikat. Muhammad bukanlah “makhluk suci tanpa noda.” Muhammad bukanlah “duplikat Tuhan.” Ia tak lain dari manusia biasa yang lahir dari rahim seorang wanita. Ia punya kemampuan terbatas seperti halnya manusia-manusia yang pernah ada di dunia. Ia butuh makan. Ia butuh menyalurkan hasrat biologisnya. Ia butuh segala hal yang dibutuhkan manusia untuk menopang hidupnya.

Kelahiran Muhammad sebagai makhluk biologis, tidak ada yang terlampau istimewa di sana. Kalaupun ada, itu hanyalah keistimewaan posisinya sebagai cucu seorang bangsawan penjaga Ka’bah: Abdul Muthallib.

Ketika Muhammad masih kanak-kanak, ia sudah menjadi Yatim-Piatu. Sehingga sejak usia delapan tahun, yang menjadi pengasuhnya adalah Pamannya.

Melihat situasi sosial masyarakatnya yang menyedihkan itulah yang menjadikan Muhammad merenung, mengasingkan diri dalam goa. Dan dalam perenungan itu, Allah mengutus Jibril menyampaikan wahyu padanya.

Iqra’! bacalah! Begitu wahyu pertama turun. Bukan kebetulan jika Allah menurunkan wahyu pada Muhammad untuk membaca. Membaca masyarakat dengan akal sehat dan hati nurani. Dengan rasionalisme dan empirisme. Apa yang kini sedang dialami oleh masyarakat sekitarnya, menjadikan Muhammad berfikir, bahwa situasi seperti ini memang harus diubah. Revolusi harus segera dimulai.

Wahyu pertama, menandai bahwa Muhammad kini menjadi seorang utusan Allah. Pembawa misi risalah pembebasan: Islam. Risalah pembebasan tersebut adalah “bayi syariat” yang memang harus dirawat, disusui, agar berkembang menjadi sempurna.

Dalam usaha membebaskan masyarakatnya, tak jarang Nabi mendapatkan banyak sekali rintangan dan perlawanan dari mereka yang merasa dirugikan kepentingannya. Sang penindas merasa jengah, saudagar kaya merasa kekayaannya terancam digerogoti.


Ah, itu dulu lah….bersambung besuk. aku sibuk.

Tidak ada komentar: