Sabtu, 26 Februari 2011

Partai Gombal UIN Turut Mewarnai Pemilwa 2011

Menjelang diselenggarakan Pemilwa UIN Sunan Kalijaga, sekawanan mahasiswa yang tergabung dalam SMK alias Sekawanan Mahasiswa Kecewa karena kemarin partainya tidak lolos verifikasi, kini berniat mendirikan partai lagi. Partai ini tak butuh secara legal diakui Mendagri. Jadi verifikasi tak lagi diperlukan.

Mula-mula, partai itu bernama Partai Golput Mahasiswa. Sesuai dengan namanya, partai ini akan mengklaim seluruh suara tidak sah maupun yang tidak bersuara. Suara tidak sah meliputi mereka yang datang ke bilik suara tetapi tidak memberikan hak suaranya, entah karena tidak mencoblos, atau mencoblos lebih dari satu partai. Sedangkan yang tidak bersuara adalah mereka yang tidak datang ke bilik suara. Alasannya beragam. Ada yang tidak hadir karena urusan pribadi, misalnya sibuk dengan urusan lain sehingga tidak sempat meluangkan waktunya. Ada yang acuh tak acuh terhadap Pemilwa sehingga mereka menganggapnya tidak penting. Ada pula yang karena alasan politik, misalnya mereka yang tidak puas dengan kinerja Student Government (SG) sebelumnya sehingga mereka dengan sadar memboikot Pemilwa.

Dengan menggabungkan seluruh suara tidak sah dan yang tidak bersuara, Partai ini diyakini akan meraup suara mayoritas. Bahkan salah seorang yang sudah siap menjadi salah satu deklaratornya yakin jika partai ini akan menembus 80 persen bahkan 90 persen suara. Tak penting apakah anggotanya memilih bergabung dengan partai ini atau hanya diklaim saja oleh para deklaratornya.

Meskipun SMK ini yakin bahwa partainya sudah pasti menang, tetapi mereka tidak puas kalau mereka hanya diam saja sambil menghitung jari, menaksir-naksir jumlah anggotanya. SMK ini ingin bergerak. Paling tidak SMK memberi penyadaran bagi calon anggotanya tentang pentingnya memboikot Pemilwa. Agar SG yang selama ini berkuasa terketuk hatinya. Paling tidak bau-bau tirani golongan mayoritas mulai dibersihkan agar demokratisasi berjalan sehat.

Tapi rupanya setelah berdebat berjam-jam di kantin, Partai Golput Mahasiswa ini gagal didirikan. Pasalnya, Partai Golput selain dianggap strategi basi, juga terkesan kurang berseni. Wajar, karena SMK ini rata-rata tergila-gila dengan seni. Akhirnya setelah mereka bertengger di kantin dari pagi sampai sore dengan hanya ditemani beberapa cangkir kopi dan beberapa batang rokok saja (maklum harga makanan di kantin memang mahal) itu, disepakati bahwa partai baru itu bernama Partai Gombal UIN. Visi dan misinya “menggombali seluruh masyarakat (bukan hanya mahasiswa) UIN.”

Strategi untuk menggalang anggota sebanyak-banyaknya, setiap anggotanya diwajibkan untuk menggombali siapapun yang bernaung di kampus ini. Bahkan kalau perlu tukang sapu pun harus digombali. Khusus untuk anggota yang tingkat ke-gombalannya tak lagi diragukan, partai ini memberi amanat agar mereka menyelundup pada setiap partai yang ada. Wabilkhusus untuk partai besar yang kini berkuasa dan berlaku tiran.

Oya, guna menghindari bentrokan sesama anggota, partai ini memberi kebebasan bagi setiap anggotanya untuk mengklaim diri dengan dengan menggombali orang lain maupun diri sendiri bahwa ia adalah ketuanya. Akhirnya, dia yang paling pandai menggomballah yang paling berhak menduduki ketua. Karena semua anggotanya maupun dirinya sendiri sudah berhasi ia gombali.

Partai ini oleh para anggotanya, dianggap suatu terobosan fenomenal dalam menanggapi kebijakan-kebijakan SG maupun birokrasi kampus. Asal pandai menggombali lawan, semua masalah menjadi beres. Selain itu, partai ini dianggap mampu mengobati kekecewaan mereka selama ini, sehingga dengan berdirinya partai ini, SMK sudah tak perlu lagi untuk dipertahankan. Karena kekecewaan itu sudah dikubur dengan gombalan-gombalan yang kini nyaris menjadi ideologi.

Oleh karenanya, jika saudara melihat beberapa mahasiswa, dosen, satpam, tukang sapu, maupun birokrasi kampus sehari-harinya menggombal; berarti separuh misi partai ini berhasil. Maka, wahal gombal-gombal UIN, berjuanglah!


Jakarta, 26 Februari 2010

Opik

Tidak ada komentar: