Minggu, 06 Februari 2011

Ibu, di mana kau sembunyikan mataharimu?

(by: Opik)

Ibu,
masih terngiang betul dongengmu menjelang malam
tentang laut-laut yang enggan bergelombang
ada mutiara abadi
maka kulebarkan layar perahuku
mengarung, melintang
tapi kabut membutakan mataku
badai merobek layar perahukuku
dan gelombang membabat tubuhku

Ibu,
masih jelas kurekam dongengmu
tentang dewi kehidupan
yang bermahkotakan bunga tulip
di taman abadi
maka kubentangkan sayapku
membawakan mawar
tapi jalan-jalan meretak
bumiku memanas
jalan ini sudah ada yang melalui
aku menggigil
mawar itu berjatuhan bersama air mataku

Ibu
masih terngiang betul dongengmu menjelang malam
kala itu, rembulan cemburu akan sinarmu
katamu
di ufuk barat,
akan ada dunia abadi
dengan bertaburan bunga-bunga
dan tarian peri cinta
maka kutapakkan kakiku
namun angin menuntunku
menuju gundukan tanah pilu
bertaburan bunga kemboja
apakah ini tempat sembunyimu?

ah, Ibu, kemana engkau pergi
bangaimana aku harus mencarimu
tidakkah kau ingin kembali membuat cemburu dewi malam di mataku dengan dongengmu
tidakkah kau ingin melihat anakmu melelapkan tidurnya di pelukmu

Ibu,
ini sungguh gelap
di mana kau sembunyikan mataharimu?
Atau mataku yang kini memang telah membuta?

Jogja, 07 Oktober 2010

Tidak ada komentar: