Rabu, 24 April 2013

ISLAM DAN RISALAH PERLAWANAN




Oleh: A Taufiq*

Islam, awalnya lahir sebagai antitesa dari sistem jahiliyah Arab abad ketujuh masehi. Dan sistem jahiliyah adalah sistem dimana kemiskinan dan pemiskinan,kebodohan dan pembodohan, ketidakadilan dan penindasan, dominasi dan subordinasi, juga sekian varian dari dehumanisasi, sangat mapan. Islam lahir bukan sekedar memberitahu siapa Tuhan, tapi lebih dari itu, membawa tauhid sebagai pijakan untuk memutarbalikkan sistem jahiliyah itu.

Tauhid mengakui hanya Tuhan-lah yang di atas manusia, sementara derajat manusia sama. Menjadikan manusia diatas manusia lain, sama halnya menuhankan manusia, dan itu syirik. Dan syirik adalah penentangan puncak dari tauhid. Maka, perilaku syirik, dalam Islam, adalah dosa yang tak dapat terampuni. Balasannya neraka selamanya!

Kita bisa bayangkan sewaktu Nabi Muhammad menyampaikan risalah tauhid ke publik, maka sudah dapat dipastikan siapa yang paling getol menentang. Dan sejarah mencatat sederet penentang itu dari kalangan orang-orang elit yang diuntungkan oleh struktur sosial dalam sistem jahiliyah, semisal Abu Lahab dan Abu Jahal. Mereka tentu tidak terima saat kebahagiaannya dalam menikmati madu penindasan terusik. Posisi mereka yang mulanya dijunjung tinggi dalam masyarakat kemudian oleh Islam dianggap sama derajatnya dengan budak dan orang-orang biasa lainnya. Maka mereka pun melakukan berbagai cara dalam membujuk agar Nabi menghentikan dakwahnya, menyingkirkan Nabi, memboikot Nabi dan pengikutnya, sampai yang terakhir mengobarkan perang. Dan Nabi mengajak pengikutnya untuk melawan bukan hanya sekedar dengan kata-kata, tapi sekaligus dengan senjata yang kemudian marak disebut jihad fi sabilillah.

Seandainya Nabi hanya sekedar mengabarkan siapa Tuhan, tapi tidak merombak sistem jahiliyah, maka akan sangat mudah diterima oleh kalangan elit tadi. Apa susahnya sekedar menyembah Tuhan, asalkan Tuhan tidak ikut campur dalam urusan ekonomi politiknya. Asalkan Tuhan malah bisa dijadikan legitimasi untuk mengokohkan posisinya.
Tapi memang bukan untuk itu Nabi diturunkan. Melainkan sebagai rahmat bagi semesta, rahmatan lil-alamin. Pembawa kabar gembira dengan cinta dan kebenaran, sekaligus pembawa ancaman bagi mereka yang menindas. Maka, rahmatan lil-alamin tentu mengharusnya perombakan total atas sistem yang menindas dan mengalienasi, lalu mengembalikan manusia ke fitrah semula, sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di muka bumi.

Dari sini kita membaca bahwa ajaran Islam sudah sangat revolusioner sejak lahir. Tapi sayang, dalam perjalanannya, pengawalan atas ke-revolusioner-an Islam, pelan tapi pasti, tenggelam kembali dalam lautan zaman. Islam sepeninggal Nabi kian hari kian tereduksi ajaran-ajaran sosialnya, ajaran-ajaran emansipasi dan perlawanannya, dan semakin menyempit seolah hanya mengurusi soal bagaimana menyembah Tuhan yang baik dan benar tanpa banyak tahu mengapa Tuhan harus disembah dan konsekuensi lanjutan dari penyembahan itu.

Maka, wajar kalau kemudian kita melihat banyak sekali umat Islam yang taat sembahyang, umroh dan haji berkali-kali, tapi korupsinya semakin menjadi-jadi.  Ditambah lagi banyak sekali umat islam yang taat dan tampak “religius” tapi diam melihat penindasan yang begitu massif atas manusia oleh manusia, seolah itu bukan tanggung jawabnya sebagai umat muslim. Bagaimana nasib petani yang sampai sekarang tidak diurusi pemerintah, yang mengalami ketergantungan mulai dari peralatan kerja, pembibitan, pupuk, dan distribusi penjualan hasil panennya, tidak banyak yang tahu. Bahkan di beberapa daerah yang digusur tanahnya oleh kapitalis, sementara mereka yang memberontak malah ditembaki militer. Bagaimana nasib buruh sekarang? Apakah sudah ada jaminan sosial dan perlindungan hukum buat mereka? Bagaimana nasib nelayan? Nasib kaum gelandangan? Tidak banyak yang tahu, apalagi berani membantu berteriak melawan sistem neo-jahiliyah ini. Dimana teriakan perlawanan kaum muslim religius yang kiai dan yang haji itu sebagaimana dicontohkan Nabi, para sahabat dan jihadis masa silam? Hmm… sepi.

Selain itu, saya sesungguhnya menyayangkan kepada banyak kalangan muslim yang malah sibuk bertengkar sendiri saat diterpa isu fundamentalisme yang berujung terorisme yang sengaja digulirkan dari Barat. Beberapa kalangan mengklaim diri sebagai Islam moderat, Islam cinta damai, sambil mengikuti Barat dengan mengutuki saudara mereka yang distigma fundamentalis-teroris. Dan pengutukan itu kemudian menjadi massif dalam seminar-seminar, pelatihan-pelatihan yang memang mendapat kucuran dana dari yang berkepentingan.

Saya tak bermaksud membela kaum fundamentalis dan apalagi teroris. Tapi apa yang kaum pengaku moderatis-liberalis lakukan dalam turut serta ramai-ramai mengutuki mereka sesungguhnya malah melupakan tugas urgen yang diemban umat islam dalam perombakan tatanan sosial yang menindas.

Terorisme lahir dari sebuah keputusasaan dalam menghadapi lawan yang teramat kuat. Perilaku teroris ingin menunjukkan diri bahwa dirinya masih ada, dan perlawanan sengawur apapun nyatanya masih berlanjut. Nah, sialnya tak jarang yang juga memanfaatkannya untuk melancarkan aksinya dalam menindas lebih dalam dari kalangan dominan ke kalangan yang lebih lemah. Kita bisa melihat kepongahan AS dalam memporak-porandakan Afganistan dan Irak atas nama perang melawan terorisme. Padahal kalau kita telisik lebih jauh,ada misi yang lebih besar di baliknya. Yaitu pengerukan kekayaan alam dan liberalisasi pasar. Ini penjajahan bung!

Apa yang harus dilakukan?
Nabi Muhammad yang mati-matian membawa risalah perdamaian sekaligus perlawanan itu harus kita hormati dan perjuangannya harus kita lanjutkan dalam konteks lokasi dan zaman yang berbeda-beda.

Sebagai pemuda muslim, kita harus melakukan pembacaan situasi saat ini secara tajam atas realita sosial yang ada. Bagaimana sistem yang sedang berlangsung. Siapa yang diuntungkan dari sistem ini dan siapa yang dilemahkan. Bagaimana hubungan antara masyarakat tempat kita berpijak dengan masyarakat dunia secara global. Apa yang sesungguhnya terjadi sehingga kemiskinan masih saja merajalela di negara kita meskipun kekayaan alam kita sangat besar tapi malah dikuasai kapitalis asing. Islam yang kita anut seperti apa sehingga masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim tetapi sangat lemah dalam melakukan gerakan perlawanan terhadap hegemoni dan dominasi kapitalis. Kekuatan dan kelemahan kita seperti apa, lalu keuntungan dan ancaman bagi kita apa.

Kita harus saling menyadarkan, saling menasihati dalam perjuangan menegakkan kebenaran, untuk kemudian mengobarkan risalah perlawanan dalam Islam untuk menggoyang kemapanan sistem neo-jahiliyah ini. Kita harus bersabar dan konsisten dalam menyusun strategi dan taktik dalam melakukan gerakan-gerakan sosial terutama dari bawah untuk menguatkan posisi mereka yang selama ini terlemahkan oleh sistem. Dengan pendidikan yang mencerdaskan dan organisasi, misalnya. Kita, bersama mereka, kaum mustadh’afien, yang terlemahkan, harus bersama-sama berjuang membebaskan diri, dengan memutarbalikkan sistem lama dengan sistem baru yang berpijak pada inti ajaran Islam, yaitu Tauhid, dimana posisi manusia sama, dan hanya Tuhan yang diatas.

Dengan begitu, tanggungjawab kita sebagai pemeluk agama Islam tertunaikan secara lebih kaffah, yaitu meneguhkan kembali Islam yang seperti semula sebagai risalah perlawanan. Mari berjihad, dan kibarkan bendera merah, bendera perjuangan, bendera perlawanan!

*Penulis aktif di Jenar Society (JESOS) Yogyakarta

Tidak ada komentar: